Home » Blog » Memahami White Balance

Memahami White Balance

blog (4)Salah satu fitur penting pada kamera digital adalah fitur White Balance. Fitur ini bisa dijumpai pada semua kamera digital mulai dari kamera pada ponsel, kamera saku hingga kamera DSLR. Mengapa fitur ini tergolong penting? Jawabannya tak lain adalah karena fitur ini akan menentukan ketepatan warna dari setiap foto yang kita buat. Warna yang dihasilkan kamera digital bisa dipengaruhi oleh sumber cahaya yang digunakan saat kita memotret, apakah sinar matahari, lampu kilat atau sumber lainnya.

Cahaya sendiri sebenarnya merupakan perpaduan dari berbagai spektrum warna yang bercampur sehingga bermacam sumber cahaya memiliki karakter warna yang berbeda. Dalam fotografi dikenal bermacam sumber cahaya yang  disesuaikan dengan kondisi pemotretan, seperti sinar matahari, lampu kilat, lampu ruangan (bohlam atau neon) hingga lampu studio. Meski kesemua sumber cahaya itu memiliki warna yang nampak sama bagi mata manusia, tidak demikian halnya dengan kamera. Sebuah sumber cahaya seperti lampu pijar akan cenderung berwarna kekuningan (atau oranye) sementara sumber cahaya lainnya ada yang cenderung kebiruan .Warna dari berbagai sumber cahaya ini dan dinyatakan dalam temperatur warna (derajat Kelvin) dengan rentang temperatur antara 1.000 K hingga 10.000 K. Semakin rendah temperatur sebuah sumber warna, maka warnanya akan semakin kekuningan (warm). Semakin tinggi temperaturnya, warnanya akan semakin kebiruan (cool). Meski bagi mata manusia perbedaan temperatur warna ini tidak menjadi masalah, namun dalam fotografi digital hal ini bisa mengganggu warna akhir yang dihasilkan. Bagi mata manusia, benda putih akan tampak putih dibawah sumber cahaya yang berbeda. Pada kamera, benda putih bisa nampak kekuningan bila disinari lampu dengan temperatur warna rendah, atau kebiruan bila disinari sumber cahaya dengan temperatur tinggi. Hal ini karena mata manusia memiliki kemampuan kompensasi warna sedangkan kamera hanya merekam warna apa adanya, temperatur warna dari sumber cahaya yang dipakai bisa berpotensi menggeser warna yang dihasilkan oleh kamera sehingga sebuah foto bisa nampak tidak natural.

Untuk itulah pada kamera digital diberikan sebuah fitur yang bernama White Balance (WB), yaitu suatu proses kompensasi warna yang dilakukan pada kamera untuk mencegah hasil foto yang warnanya tidak natural. Proses WB pada kamera akan menyesuaikan dengan temperatur warna yang dipancarkan dari sumber cahaya sehingga benda yang berwarna putih akan tetap tampak putih, tidak terlalu oranye atau kebiruan.

Mengapa harus benda putih? Hal ini karena benda putihlah yang mudah untuk dijadikan acuan sekaligus mampu bereaksi terhadap perubahan warna dari sumber cahaya. Warna putih tidak mengenal kompromi, tidak ada putih muda atau putih tua, tidak ada putih kebiruan atau putih kekuningan. Warna putih akan jadi kuning bila disinari cahaya kuning, dan akan jadi biru bila disinari lampu berwarna biru. Maka itu benda putih bisa menjadi tolok ukur tepat atau tidaknya pengaturan WB kamera. Bila kamera diset dengan WB untuk temperatur warna rendah namun diberi sumber cahaya yang temperatur warnanya lebih tinggi maka hasilnya benda putih tadi akan jadi kebiruan, sebaliknya bila kamera diset dengan WB untuk temperatur warna tinggi namun diberi sumber cahaya yang temperatur warnanyaa lebih rendah maka hasilnya benda putih tadi akan jadi kekuningan (atau oranye).

Prinsip kerja White Balance pada kamera

Proses White Balance pada kamera digital bisa dilakukan secara otomatis oleh kamera, istilahnya Auto White Balance (AWB), tersedia pada semua kamera digital dari kamera ponsel hingga kamera high-end. Bila hasil dari AWB tidak memuaskan kita juga bisa memilih berbagai nilai preset WB yang tersedia pada kamera digital. Pada kamera modern bahkan tersedia pilihan untuk melakukan kalibrasi secara manual.

Auto White Balance (AWB) adalah proses internal kamera digital yang secara otomatis akan menyesuaikan terhadap temperatur warna dari sumber cahaya yang ada. Bisa dibilang dalam proses ini kamera ‘menebak’ temperatur warna dari sumber cahaya yang ada lalu melakukan kompensasi dengan pergeseran warna seperlunya sehingga warna yang dihasilkan menjadi natural. Mode AWB ini dalam kebanyakan kasus bisa diandalkan untuk pemakaian outdoor siang dan malam hari, dengan atau tanpa lampu kilat. Seberapa baik AWB ini bisa mendapat warna putih yang natural sangat ditentukan oleh berbagai faktor seperti jenis sumber cahaya, suasana sekitar dan warna dari obyek yang difoto. AWB akan lebih aman bila digunakan saat siang hari dan pemakaian lampu kilat, dan AWB bisa memberikan kinerja yang berbeda-beda bila menemui sumber cahaya yang temperaturnnya cukup rendah atau cukup tinggi. Bila dengan memakai AWB tidak memberikan hasil yang memuaskan, gunakan preset WB yang sudah disesuaikan dengan berbagai macam temperatur warna.

Berikut ini adalah beberapa preset WB yang umum ditemui di kamera digital, diurut dari temperatur terendah hingga tertinggi :

  • Tungsten atau Incandescent (2500-3500K) :
    Preset ini cocok untuk mengkompensasi sumber cahaya seperti lampu pijar yang berwarna kekuningan dan biasanya dipakai untuk memotret indoor tanpa lampu kilat. Bila preset ini dipakai pada sumber cahaya lain hasilnya akan sangat biru.
  • Flourescent (4000-5000K) :
    Peset yang disesuaikan dengan temperatur warna dari lampu neon. Di pasaran umumnya tersedia lampu neon dengan dua pilihan yaitu warm white dan cool daylight, dimana temperatur warna kedua jenis ini berbeda. Warm white punya temperatur rendah mendekati lampu pijar, sedang cool daylight punya temperatur warna mendekati sinar matahari di siang hari.
  • Daylight (5000 – 6500K) :
    Cocok digunakan bila memotret di luar ruangan siang hari dengan sinar matahari langsung.
  • Flash (5600K) :
    Preset yang disesuaikan dengan temperatur warna dari lampu kilat kamera. Temperatur warna ini dianggap yang paling natural, tidak kebiruan atau kekuningan.
  • Cloudy  (6500 – 8000K) :
    Preset ini untuk dipakai di saat siang hari namun kondisi berawan (kadang bila memakai AWB hasilnya agak kebiruan). Preset ini bisa menghasilkan warna yang lebih hangat bila dibanding dengan preset Daylight saat dipakai di siang hari.
  • Shade (8000-10000K) :
    Preset untuk menghadapi temperatur warna amat tinggi, biasanya terjadi saat berada di bawah bayangan matahari atau kondisi sangat berawan. Gunakan preset Shade bila dengan AWB anda masih mendapati hasil foto yang kebiruan. Bila preset ini dipakai pada sumber cahaya lain hasilnya akan sangat kekuningan.

Dengan memilih setting preset WB diatas, pada prinsipnya kitalah yang memberitahu kamera akan sumber cahaya yang kita gunakan untuk memotret. Dengan demikian diharapkan kamera akan memberikan hasil WB terbaiknya untuk sumber cahaya yang ada. Khususnya untuk sumber cahaya matahari, pemilihan preset WB tidak harus selalu memakai preset Daylight semata, karena temperatur warna matahari juga tergantung pada waktu, ketinggian dan awan. Bila memakai preset Daylight atau memakai AWB masih menghasilkan warna yang kebiruan (artinya preset yang kita pilih masih terlalu rendah) bisa mencoba menaikkan temperaturnya dengan memakai preset Cloudy bahkan Shade. Sebaliknya bila foto kita kekuningan (artinya preset yang kita pilih terlalu tinggi), turunkan temperaturnya dengan memakai preset lampu neon bahkan lampu pijar.

Pada kamera tertentu tersedia juga fasilitas untuk melakukan manual preset dengan cara mengarahkan kamera ke obyek berwarna putih atau abu-abu untuk mendapat warna yang paling natural. Untuk itu tersedia sebagai aksesori sebuah alat bantu bernama grey card yang biasa dipakai untuk pengaturan WB yang lebih presisi. Bila ketepatan warna menjadi hal yang mutlak, disarankan memotret memakai format RAW sehingga warna yang dihasilkan bisa diatur dengan akurat melalui komputer.